Hari ini adalah hari dimana gue makan siang bareng (lagi) sama Senna. Jujur aja, awalnya gue ragu dan bingung. Mungkin, karena awalnya kita ngga kenal sama sekali. Tapi, ternyata dia ngga seburuk yang gue bayangin. Ini udah ketiga kalinya kita pergi bareng, dan gue mulai sedikit terbiasa sama kehadiran dia. Agenda hari ini? makan sushi di Sushi Hiro.

Setelah selesai kelas, gue nunggu senna di parkiran FISIP. Sekitar 7 menit nunggu dengan perasaan gue yang sedikit excited itu, akhirnya orang yang gue tunggu-tunggu dateng juga. Senna, dengan mobil Mazda 3 warna hitam miliknya, klasik cocok sama look, style dan kepribadian dia. Dia turun dari mobil dengan t-shirt warna hitamnya, menyapa dan membukakan pintu mobil buat gue. Udah kedua kalinya gue diperlakukan kayak gini sama Senna. Setelah gue masuk ke mobilnya, kita langsung pergi ke margocity buat makan sushi hiro.

"Sorry ya, have you been waiting for a long time, Tatj?" tanyanya sambil mulai ngejalanin mobilnya. "oh engga kokk senn, santai aja" jawab gue sambil senyum kearah dia. selanjutnya kita fokus ke jalanan, yang sebenernya jaraknya ngga begitu jauh, perjalanan itu kita isi obrolan mengenai kelas pertama hari ini, ternyata Senna hari ini ada praktek, makanya dia sedikit lebih lama dari waktu yang seharusnya. Setelah kurang lebih 20 menitan kita jalan, akhirnya kita udah sampe juga di Margocity.


Setelah masuk ke tempat makan, gue dan Senna langsung duduk dan memesan makanan. Jujur aja, gue udah cukup laper. Sambil nunggu, kita ngobrol-ngobrol santai. Dia cerita tentang gimana kehidupannya sebagai mahasiswa baru Teknik Mesin—yang ternyata nggak se-"berat" namanya, katanya sambil ketawa. Dia juga balik nanya ke gue soal kegiatan gue sebagai maba FISIP UI. Obrolan kita ngalir, ringan, dan asik.

Sekitar 20 menit berlalu, makanan kita akhirnya datang. Sebelum gue sempat menyantap sushi yang udah bikin gue ngiler, tiba-tiba hp gue bergetar. "Brrrtttt..." Notifikasi itu ternyata chat dari Prabu. Dia ngajak gue lunch bareng di apartemen. Gue langsung berpikir, "Duh, timingnya nggak pas banget." Dengan sedikit kikuk, gue coba jelasin lewat chat, takut dia terus nanya sampe bubble chat-nya berderet panjang—kebiasaan Prabu kalau udah penasaran.

Sambil balas chat, gue juga sesekali menyuap makanan dan mencoba tetap nimbrung obrolan sama Senna. Tapi ya, gue sadar banget kalau sikap gue ini terkesan nggak sopan. Akhirnya, gue berhenti balas chat Prabu dan fokus ke Senna yang sedari tadi ngeliatin gue, mungkin bingung apa yang gue lakuin. "Sorry banget ya, Sen. Jadi nggak fokus," ucap gue sambil senyum kecil, merasa bersalah. "Nggak apa-apa, Tat. Kayaknya urgent, ya?" balasnya santai. "Santai aja, fokus makan dulu. Baru nanti ngobrol lagi."Jawaban itu bikin gue lega, tapi juga sedikit malu. Gue baru sadar kalau Senna memang tipe orang yang kalau makan lebih suka fokus. Menurut dia, ngobrol sambil makan itu kurang etis, dan gue setuju juga sih—walaupun sering gue lakuin.

Setelah makanan habis, suasana kembali santai. Kita ngobrol lagi, bercanda, dan saling tanya soal hal random. Di tengah obrolan, tiba-tiba dia bilang, "Eh, tat, minggu ini free ngga? mau nggak nonton gue latihan basket nanti?"Gue langsung sedikit kaget. "Latihan basket? Buat apa emangnya?" tanya gue penasaran."Buat olimpiade UI nanti. gue diajak sama kating buat ngewakilin Teknik Mesin." jawabnya santai sambil tersenyum kecil. Gue diem sebentar, mencoba mencerna ajakannya. Nonton dia latihan basket? Gue nggak tahu harus excited, bingung, atau mungkin sedikit deg-degan. Tapi satu hal yang gue tahu, hari ini jadi terasa lebih menarik dari biasanya.-----